|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
bidang kedokteran, serta perubahan konsep perawatan dari perawatan orang sakit
secara individual kepada perawatan yang paripurna, menyebabkan peranan
komunikasi menjadi lebih penting dalam memberikan asuhan keperawatan. Dalam hal
kemajuan seperti ini, komunikasi dari perawat sebagai orang terdekat dengan
pasien menjadi lebih penting dalam membantu penyembuhan pasien (Purwanto, 1994
).
Komunikasi itu sendiri adalah penyampaian informasi
dari seseorang kepada orang lain, dengan menyertakan kode atau lambang dan
penyampaian itu sendiri melalui suatu proses (Kariyoso, 1996). Disamping itu,
komunikasi dapat juga diartikan sebagai alat yang efektif untuk mempengaruhi
tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara
terus menerus (Purwanto, 1994).
|
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak bisa lepas dari
kegiatan komunikasi, kenyataanya komunikasi memang secara mutlak merupakan
bagian yang integral dari kehidupan kita, tidak terkecuali anda yang berstatus
sebagai perawat yang tugasnya sehari-hari selalu berhubungan dengan orang lain,
baik itu dengan atasan, dokter, pasien, sesama teman sejawat, dan sebagainya.
Oleh karena itu, komunikasi sangat dibutuhkan perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat,
dengan masalah kesehatan yang lazim terjadi diberbagai tatanan pelayanan
kesehatan (Depkes RI, 1996).
Komunikasi dalam bidang keperawatan merupakan
proses untuk menciptakan hubungan antara perawat dengan keluarga pasien dan
tenaga kesehatan lainnya, untuk mengenal kebutuhan pasien dan juga dalam hal
menentukan rencana tindakan, serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut
harus tercipta komunikasi therapeutik. Sedangkan komunikasi therapeutik adalah
komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan
untuk kesembuhan pasien (Purwanto, 1994).
Dalam membina komunikasi yang therapeutik, kita
sebagai tenaga perawat yang profesional hendaknya harus mempunyai tingkat
pengetahuan yang luas dan spesifik,
serta pengalaman yang memadai. Perawat yang sudah berpengalaman dapat
menganalisa diri sendiri, dan juga dapat menjadi nilai tambah bagi pengalamannya
yang berguna agar lebih efektif dalam memberikan asuhan keperawatan, serta
perawat juga harus mempunyai konsep diri yang stabil dan harga diri yang
adekuat, sehingga mempunyai hubungan yang konstruktif dengan orang lain dan
berpegang pada kenyataan dalam menolong pasien (Stuart and Sundeem, 1996).
Sebagaimana seperti kita ketahui, bahwa pasien
selalu menuntut pelayanan keperawatan yang paripurna, karena sakit yang
diderita pasien bukan hanya sakit secara fisik saja, namun psiko (jiwanya),
emosi juga dialaminya. Penyebabnya bisa dikarenakan oleh proses adaptasi dengan
lingkungan yang sehari-hari, seperti lingkungan di rumah sakit yang serba
putih-putih, dan tentu saja berbeda dengan lingkungan di rumah pasien. Keadaan
demikian menyebabkan pasien yang baru masuk terasa asing dan cenderung gelisah
serta takut, disinilah peranan kita sebagai perawat dalam berkomunikasi
mempunyai andil yang sangat besar dalam pemberian pelayanan asuhan keperawatan
(Kariyoso, 1996).
Dalam membina hubungan yang therapeutik tugas utama
perawat adalah membina saling percaya, menerima, pengertian, komunikasi yang
terbuka dan perumusan kontrak dengan pasien, pada perumusan kontrak yang baru
biasanya pasien mengalami perasaan tidak nyaman, ragu-ragu dan serba salah.
Untuk itu perawat harus memahami sikap verbal maupun non verbal dari pasien
yang perlu dipelajari pada setiap tindakan perawatan (Keliat, 1996).
Dalam penerapan komunikasi therapeutik juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain komunikator, komunikan, pesan,
media dan umpan balik
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam komunikasi therapeutik adalah
komunikator (Perawat), karena komunikator (Perawat) merupakan faktor yang
berpengaruh besar dalam penerapan komunikasi
therapeutik (Kariyoso,
1996).
Komunikasi therapeutik dapat dilakukan oleh tenaga
medis dan para medis, disemua instansi dan juga diruangan lainnya, khususnya
diruangan rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, dimana dalam kelas perawatan
khususnya klas II maupun Klas III, dimana pasien yang di rawat biasanya berasal
dari kalangan menengah kebawah dan tingkat pendidikan mereka juga rendah,
sehingga sering dijumpai yang tidak memperhatikan secara menyeluruh kebutuhan
akan perhatian diri pasien, padahal disinilah peranan komunikasi therapeutik
sangat dibutuhkan tetapi di rumah sakit
jiwa lebih membutuhkan komunikasi therapeutik yang sesuai dari fase-fase
komunikasi therapeutik dari pada rumah
sakit umum.
Diruangan rawat inap Melati (C2) RSUD Dr. M.Yunus
Bengkulu memiliki 25 orang tenaga kesehatan atau perawat, yang sebagaimana pendidikan
mereka adalah satu orang tamatan dari SI Kep, dan menjabat sebagai kepala
ruangan, 20 orang tamatan dari D3 Kep, dan 4 orang tamatan dari SPK dan jumlah
25 orang bila dibagi lagi dalam tiga shif
kerja yaitu : shif pagi, siang,
dan malam, maka setiap shifnya bisa berjumlah 8 dan 9 orang, tapi bila dilihat
dari yang dinas sore dan malam kadang hanya terdiri dari 3 orang perawat
ruangan, dengan jumlah pasien keseluruhan kurang lebih dari 40 orang. Hal ini
terlihat jelas, pada saat peneliti melaksanakan praktek atau dinas diruangan
Melati, bahwa masih banyak perawat yang belum menerapkan komunikasi therapeutik
dalam memberikan asuhan keperawatannya, padahal sebagai perawat yang
profesional harus mempunyai kemampuan intelektual atau kemampuan akan penguasaan
ilmu pengetahuan, dan kemampuan interpersonal atau sikap, sedangkan kemampuan
itu sendiri adalah tingkah laku yang diharapkan orang lain terhadap seseorang
sesuai dengan kedudukannya dalam sistem. (Sinopsis dasar -dasar keperawatan).
Berdasarkan hasil pengamatan penulis pada survey
awal diruang rawat inap Melati (C2) RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu masih banyak
perawat yang belum melaksanakan atau menerapkan komunikasi therapeutik dalam
memberikan asuhan keperawatan, misalnya ada pasien dan keluarga pasien mau
bercerita keluhannya namun perawat acuh tak acuh, malas mendengarkan dan juga
perawat kurang memberikan respon baik verbal maupun non verbal sehingga pasien
dan keluarga pasien merasa tidak dihargai atau pasien tidak merasa puas dengan
asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat.
Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian lebih dalam dengan judul “Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi dalam Komunikasi Therapeutik Perawat kepada Keluarga pasien
diruang rawat inap Melati (C2) RSUD.Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2005”. Yang
ditinjau dari komunikator dan komunikan, namun kerena keterbatasan waktu
penulis hanya membahas pada faktor pengetahuan dan sikap baik dari komunikator
maupun komunikan.
B. Rumusan Masalah
Dari
uraian-uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang diatas, maka rumusan
masalah adalah “ Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi dalam komunikasi
therapeutik perawat kepada keluarga pasien diruang rawat inap Melati(C2)
RSUD.Dr.M.Yunus Bengkulu tahun 2005”.
C. Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam komunikasi
therapeutik perawat kepada keluarga pasien di ruang rawat inap Melati (C2)
RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2005.
- Tujuan Khusus
§
Untuk mengetahui Pengetahuan dan Sikap komunikator
(perawat) yang mempengaruhi dalam komunikasi therapeutik perawat kepada
keluarga pasien diruang rawat inap Melati (C2) RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu
tahun 2005.
§
Untuk mengetahui
Pengetahuan dan Sikap Komunikan (Keluarga Pasien) yang mempengaruhi
dalam komunikasi keluarga pasien dengan perawat kepada diruang rawat inap
Melati (C2) RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2005.
D. Manfaat Penelitian
- Untuk Program Tempat Penelitian
Digunakan sebagai bahan masukan bagi perawat dalam
upaya meningkatkan penerapan komunikasi therapeutik dalam memberikan asuhan
keperawatan diruang rawat inap Melati (C2) RSUD.Dr.M.Yunus Bengkulu.
- Untuk Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan bahan bacaan bagi mahasiswa / I terutama
jurusan keperawatan atau tenaga kesehatan, agar lebih memahami bahwa dalam
memberikan asuhan keperawatan, komunikasi therapeutik sangatlah penting untuk
diterapkan.
- Untuk Masyarakat
Merupakan salah satu informasi yang menambah pengetahuan dan sikap,
terutama bagi keluarga pasien itu sendiri, sehingga dengan adanya komunikasi
therapeutik yang baik oleh perawat, maka masyarakat dan pasien akan merasa puas
dalam penerimaan pelayanan asuhan keperawatan.
- Bagi Peneliti Lain
Dapat juga menjadi masukan bagi peneliti lain, sehingga dapat
dikembangkan dalam penelitian selanjutnya.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan
yang penulis ketahui di Bengkulu sudah ada yang melakukan penelitian tentang
komuniukasi therapeutik, yaitu :
- Dengan judul “ Gambaran tingkat pengetahuan perawat terhadap komunikasi therapeutik diruang UGD RSUD.Dr.M.Yunus Bengkulu.” (M.G.Lili.S, 2003)
- Dengan judul “ Gambaran penerapan komunikasi therapeutik diruang rawat inap Seruni RSUD.Dr.M.Yunus Bengkulu.” (Lini Iswati, 2004)
Sedangkan perbedaan yang akan peneliti lakukan
sekarang adalah “Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi dalam komunikasi therapeutik
perawat kepada keluarga pasien diruang rawat Inap melati (C2) RSUD.Dr.M.Yunus
Bengkulu tahun 2005”.
BAB II
|
|
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Komunikasi
1.
Definisi
Menurut
Haffied Cangara (1996), Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau
lebih membentuk atau melakuakan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya,
yang pada giliranya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Sedangkan
menurut pendapat Effendy (2004), komunikasi adalah proses mengubah prilaku
orang lain.
Dan menurut Keith Davis dalam buku Kariyoso (1996),
Komunikasi adalah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang kepada
orang lain. Jadi bila kita simpulkan menurut ahli komunikasi, maka komunikasi
adalah penyampaian dari seseorang kepada orang lain, dengan menyertakan kode
atau lambang, dan penyampaian itu sendiri melalui proses.
2.
Tipe – Tipe Komunikasi
Menurut Purwanto (1994), ada berbagai macam
komunikasi, menurut jenisnya dapat dibagi :
a.
Pelaksanaan
|
Dalam pelaksanaan komunikasi dibagi lagi menjadi :
-
Komunikasi
formal adalah komunikasi yang terjadi antara bawahan dan atasan dalam lingkup
pekerjaan yang secara hirarkis berbeda. (komunikasi ini terjadi dalam situasi
pormal).
-
Komunikasi informal adalah komunikasi yang dalam
pelaksanaannya tidak mengenal hirarki dan komunikasi informal tidak ada
sangsinya.
b.
Bentuknya
Menurut bentuknya ada 2 Yaitu :
-
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang mempergunakan
lambang, bahasa dalam penyampaian pesan kepada penerima. (Baik lisan maupun
tulisan)
-
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang
mempergunakan lambang, bukan bahasa dapat berwujud gambar, isyarat dan
lain-lain.
c.
Umpan Balik
Berdasarkan proses umpan balik, komunikasi dibagi
menjadi 2 yaitu :
-
Komunikasi satu arah maksudnya komunikator tidak
memberi kesempatan kepada komunikan untuk meminta penjelasan, pembenaran dan
lain-lain. (hanya menjamin penyampaian pesan)
-
Komunikasi dua arah mempunyai sistem umpan balik
yang melekat. (Menjamin informasi jelas dan terbuka).
3.
Persiapan Dalam Komunikasi
Sebelum menyampaikan program-programnya dalam
memberikan penyuluhan kesehatan dimasyarakat, seseorang perawat sebelumnya
sudah mempersiapkan diri tentang materi yang hendak disampaikan, persiapan
tersebut, meliputi :
1.
Persiapan situasi dari penyuluhan itu sendiri.
2.
Seleksi dari materi atau bahan penyuluhan.
3.
Membuat atau menyusun materi yang sudah dipilih dengan
sistematis.
4.
Melakukan latihan yang intensif sebelum memberikan
penyuluhan.
4.
Ruang Lingkup Komunikasi
Komunikasi dapat diadakan dalam bentuk :
a.
Suatu perintah, dalam hal ini komunikasi bagian
daripada proses memimpin.
b.
Suatu permintaan.
c.
Suatu observasi, suatu usaha untuk mengambil suatu
keputusan atau mungkin hanya suatu pernyataan dari satu sudut pandang.
d.
Sebagai informasi.
e.
Sebagai pelajaran, berhubungan dengan pelatihan
atau sebagai bagian penyuluhan.
5.
Macam- Macam Komunikasi
Ada 3 macam
komunikasi menurut Kariyoso (1996) :
a.
Komunikasi Searah
Disini komunikator
mengirim pesannya melalui saluran atau media dan diterima oleh komunikan,
sedangkan komunikan tersebut tidak memberikan umpan balik (Feed back).
b.
Komunikasi dua arah atau timbal balik
Komunikator mengirim pesan (berita) diterima oleh komunikan setelah
disimpulkan, kemudian komunikan
mengirimkan umpan balik kepada sumber berita atau komunikator.
c.
Komunikasi berantai
Komunikan menerima pesan
atau berita dari komunikator kemudian disalurkan kepada komunikan kedua, dari
komunikan kedua disampaikan kepada komunikan ketiga, dan seterusnya.
B. Konsep Komunikasi Therapeutik
1.
Definisi komunikasi therapeutik
Komunikasi therapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya
komunikasi merupakan komunikasi profesional
yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien (Purwanto,1994).
Sedangkan Menurut Stuart dan Sundeen dalam Keliat (1996), komunikasi
therapeutik adalah hubungan kerjasama yang ditandai dengan tukar menukar
prilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman, dalam membina hubungan yang
therapeutik.
Komunikasi therapeutik termasuk komunikasi
interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat
dengan pasien. Persoalan mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling
kebutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan kedalam komunikasi
pribadi diantara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima
bantuan. ( Purwanto,1994
).
2.
Kegunaan komunikasi therapeutik
Fungsi komunikasi therapeutik adalah mendorong dan
menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan
pasien. Perawat berusaha mengungkapkan perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji
masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan. Proses
komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu
pasien untuk dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap
perawatan. Sedangkan pada tahap preventif keguanaanya adalah mencegah adannya
tindakan yang negatif tehadap pertahanan diri pasien ( Purwanto,1994 ).
3.
Tujuan Komunikasi Therapeutik
Tujuan
komunikasi menurut Kariyoso (1994), adalah sebagai berikut :
a.
Sebagai alat penampilan informasi antara perawat dengan
pasien.
b.
Dengan komunikasi therapeutik dapat mampu memahami
pentingnya komunikasi dalam memberikan asuhan keperawatan.
c.
Memahami berbagai teknik komunikasi pada tahap
perkembagan manusia.
d.
Menetapkan teknik komunikasi dalam memberikan asuhan
keperawatan pasien, maupun keluarga dalam berbagai kondisi.
Tujuan komunikasi menurut (Purwanto,1994), adalah sebagai berikut
:
a.
Membantu pasien untuk menjelaskan dan mengurangi beban
perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang
ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
b.
Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil
tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c.
Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya
sendiri.
komunikasi therapeutik merupakan bentuk keterampilan
dasar untuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam praktek keperawatan,
wawancara digunakan untuk bebagai tujuan misalnya : pengkajian, memberi
penyuluhan kesehatan dan perencanaan perawatan dan sebagai media
therapeutik
4.
Fase – fase Dalam Komunikasi Therapeutik
Menurut Stuart and Sundeen dalam Keliat (1996),
fase-fase dalam komunikasi therapeutik dibagi dalam empat fase :
a.
Fase Pra Intraksi
1.
Eksplorasi perasaan
2.
Menyiapkan diri untuk berhubungan dengan pasien.
3.
Analisa kekuatan, kelamahan prafesional diri.
4.
Dapatkan data tentang pasien jika mungkin.
5.
Rencanakan pertemuan pertama.
b.
Fase Perkenalan/orientasi.
1.
Tentukan alasan
pasien meminta pertolongan, atau mengkaji apakah pasien membutuhkan
pertolongan.
2.
Memperkenalkan
diri, bina saling percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka
3.
Rumusan kontrak bersama
4.
Menggali pikiran, perasaan dan prilaku pasien.
5.
Identifikasi masalah pasien.
6.
Rumusankan tujuan dengan pasien
c.
Fase Kerja
1.
Menggali stressor yang ada hubungan dengan pasien
2.
Meningkatkan tujuan atau pengertian pasien tentang
dirinya agar lebih mengenal dirinya.
3.
Menangani atau mengatasi masalah pasien.
d.
Fase Terminasi
1.
Menyiapkan Pasien untuk berpisah
2.
Mengevaluasi kemajuan atau perbaikan pasien
3.
Saling menggali perasaan yang timbul saat perpisahan
Selain fase-fase di atas dan ada juga menurut Purwanto (1994), terdiri
dari 3 fase adalah sebagai berikut :
a.
Fase Orientasi terdiri dari
-
Pengenalan
-
Persetujuan Komunikasi
-
Program Orientasi yang meliputi :
§
Penentuan batas hubungan
§
Pengidentifikasian masalah
§
Mengkaji tingkat kecemasan diri sendiri dan
pasien
§
Mengkaji apa yang diharapkan
b.
Fase Lanjutan
-
Meningkatkan interaksi social dengan cara :
§
Meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain
untuk mengatasi kecemasan.
§
Menggunakan teknik komunikasi therapeutik
sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama.
-
Meningkatkan
faktor fungsional komunikasi therapeutik melalui :
§
Melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang
ada
§
Meningkatkan komunikasi pasien dan mengurangi
ketergantungan pasien pada perawat.
§
Mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan
mengambil tindakan berdasakan masalah yang ada.
c.
Fase terminasi
-
Merupakan fase
persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang
telah didapatkan dan mempertahankan batas hubungan yang sudah ditentukan.
-
Mengantisipasi
masalah yang akan timbul pada fase ini karena psien mungkin menjadi tergantung
pada perawat.
-
Fase ini memungkinkan ingatan pasien pada
pengalaman perpisahan sebelumnya,
sehingga pasien merasa sunyi, menolak dan depresi. Diskusikan perasaan-perasaan
tentang terminasi.
5.
Penerapan Komunikasi Therapeutik
Dalam penerapan komunikasi therapeutik diperlukan teknik-teknik tertentu,
adapun menurut Purwanto (1994), teknik-teknik dalam komunikasi therapeutik
adalah :
a.
Listening ( Mendengarkan )
Merupakan dasar utama dalam komunikasi therapeutik karena dengan
mendengar perawat akan mengetahui perasaan pasien. Beri kesempatan lebih banyak
kepada pasien untuk berbicara, perawat harus menjadi pendengar yang aktif.
b.
Board Opening ( Pertanyaan tebuka )
Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban “Ya” dan “Mungkin” tetapi
pertanyaan memerlukan jawaban yang luas, sehingga dapat mengemukakan
masalahnya.
c.
Resting ( Mengulang )
Perawat mengulangi sebagian pertanyaan pasien dengan menggunakan
kata-kata sendiri, yang menunjukkan perawat mendengarkan pembicaraan pasien.
d.
Klarifikasi
Menjelaskan kembali ungkapan pikiran yang dikemukakan pasien yang kurang
jelas bagi perawat agar tidak terjadi salah pengertian.
e.
Refleksi
Refleksi ada dua :
1.
Refleksi untuk
memvalidasi apa yang didengar, klasifikasi, ide-ide yang dieksperimentkan
pasien dengan pengertian perawat.
2.
Refleksi
perasaan, memberi respon pada perasaan pasien terhadap isi pembicaraan agar
pasien mengerti dan menerima perasaannya.
f.
Foccusing ( Memfokuskan )
Perawat membantu pasien untuk memfokuskan pembicaraan agar lebih spesifik
dan terarah.
g.
Membagi persepsi
Perawat mengungkapkan persepsinya tentang pasiennya dan meminta umpan
balik dari pasien.
h.
Silence ( Diam )
Diam yang positif dan penuh penerimaan merupakan media therapeutik yang
sangat berharga karena dapat memotivasi pasien untuk berbicara, mengarahkan isi
pikirannya kepada msalah yang dialaminya.
i.
Informing
Memberikan informasi kepada pasien mengenai hal-hal yang tidak atau belum
diketahuinya.
j.
Memberi saran
Meemberikan alternatif ide untuk pemecahan masalah, tepat dipakai pada
fase kerja dan tidak pada fase awal hubungan.
C. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
Menurut Kariyoso (1994), Faktor-faktor yang
mempengaruhi komunikasi antara lain :
1.
Ditinjau dari Komunikator
a.
Pengetahuan Komunikator
Keberhasilan dari komunikasi dipengaruhi kekayaan (wawasan) pengetahuan
pihak komunikator. Semakin dalam komunikator menguasai masalah akan semakin
baik dalam memberikan uraian-uraiannya.
b.
Sikap Komunikator
Sikap komunikator yang baik akan mempelancar suatu proses komunikasi.
-
Sikap Sombong, angkuh, menyebabkan pendengar enggan dan
menolak uraian komunikator
-
Cara duduk yang angkuh, tidak mau mendengar orang lain
adalah cara atau sikap yang tidak terpuji
-
Sikap ragu-ragu bisa menyebabkan pendengar atau pemirsa
kurang percaya terhadap komunikator
-
Sikap tegas yang ditampilkan harus bersumber pada
hubungan kemanusia yang baik, sehingga pendengar percaya terhadap uraian
komunikator.
-
Semakin baik hubungan antar manusia seseorang makin
memperlancar arus komunikasi.
c.
Kecakapan komunikator
Komunikator yang baik adalah komunikator yang dapat menguasai cara-cara
penyampaian buah pikiran, mudah dimengerti, sederhana, baik secara lisan maupun
tulisan.
-
Cakap dalam memilih lambang atau symbol yang tepat
untuk mengungkapkan buah pikiran.
-
Bisa membangkitkan minat para pndengarnya
-
Pandai menarik perhatian
-
Dapat memancing lawan bicara untuk dapat mengemukakan
pendapatnya.
-
Tidak berbelit-belit dalam menyampaikan pesannya.
d.
Sistem sosial komunikasi
Komunkasi dipengaruhi pula oleh sosial. Sebagai contoh pembicaraan kepada
teman setingkat. Demikian pula bagi mereka yang berbicara didepan masyarakat
tertentu, mereka akan menyesuaikan pula sifat-sifat masyarakat tadi. Hal ini
sangat penting untuk menghindari adanya suatu kesenjangan
e.
Pengaruh komunikasi komunikator
Pengaruh komunikasi yang lain adalah “saluran” atau alat tubuh dari
komunikator terutama dalam komunikasi lisan. Misalnya suara mantap, ucapan
jelas, intonasi suara yang tidak menoton akan lebih banyak menarik perhatian
atau minat pendengar. Juga gerak gerik anggota tubuh yang lain terutama yang
diatur sedemikian rupa dapat mendukung suatu pembicaraan.
2.
Ditinjau dari Komunikan
a.
Pengetahuan Komunikan
Kurang pengetahuan. Seorang yang kurang pengetahuannya, jarang membaca
atau mendengarkan radio atau televisi. Akan mengalami kesulitan dalam mengikuti
pembicaraan orang lain.
b.
Sikap
Sikap yang kurang tepat. Seseorang guru yang sedang mengajar di depan
kelas, sambil duduk di atas meja akan memberi kesan kurang baik bagi siswanya
c.
Kecakapan
Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi, kurang cakap berbicara
(terutama didepan umum) berbicara tersedat-sedat menyebabkan pendengar menajdi
jengkel dan tidak sabar.
d.
System sosial
-
Kurang memahami system social
-
Prasangka yang tidak beralasan
-
Jarak fisik, komunikasi menjadi kurang lencar bila
jarak antara komunikator dengan reseptor berjauhan.
-
Tidak ada persamaan persepsi.
e.
Saluran ( pendengaran, penglihatan) dari komunikator
-
Indra yang rusak
-
Brbicara yang berlebihan. Berbicara berlebihan sering
kali akan mengakibatkan penyimpangan dari pokok pembicaraan
-
Mendominir pembicaraan dan lain sebagainya.
D. Unsur - Unsur Komunikasi Therapeutik
Unsur-unsur dari komunikasi therapeutik menurut
Purwanto (1994), adalah sebagai berikut :
1.
Sumber proses komunikasi yaitu pengirim dan penerima
pesan. Prakarsa berkomunikasi dilakukan oleh sumber ini dan sumber juga
menerima pesan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam pengirim.
2.
Pesan-pesan yang disampaikan dengan menggunakan
penyandian baik yang berupa bahasa verbal maupun non verbal.
3.
Penerima yaitu orang yang menerima pengiriman pesan dan
membalas pesan yang disampaikan oleh sumber, sehingga dapat diketahui mengerti
tidaknya suatu pesan.
4.
Lingkungan waktu
komunikasi berlangsung, yang dalam hal ini meliputi saluran penyampaian dan
penerima pesan serta lingkungan alamiah saat pesan disampaikan. Saluran
penyampaian pesan melalui indra manusia yaitu : pendengaran, penglihatan,
pengecapan dan perabaan.
E. Prinsip – prinsip Komunikasi Therapeutik
Prinsip –prinsip komunikasi therapeutic menurut
Carl Rongers dalam Purwanto (1994 ) adalah :
1.
Perawat harus
mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri
serta nilai yang dianut.
2.
Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima,
saling percaya dan saling menghargai.
3.
Perawat harus memahami, menghayati, nilai yang dianut
oleh pasien.
4.
Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien
baik fisik maupun mental.
5.
Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan
pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.
6.
Perawat harus dapat menciptakan suasana yang
memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap,
tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah yang
dihadapi.
7.
Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara
bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah,
keberhasilan maupun frustasi.
8.
Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat
mempertahankan konsistensinya.
9.
Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang
therapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang therapeutik.
10.
Kejujuran dan Komunikasi terbuka merupakan dasar dari
hubungan therapeutik.
11.
Mampu berperan sebgai role model agar dapat menunjukkan
dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu
mempertahankan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual dan gaya hidup.
12.
disarankan untuk mengekpresikan perasaan bila dianggap
mengganggu.
13.
Altruisme mendapatkan kepuasan dengan menolong
orang lain secara manusiawi.
14.
Berpegang pada
etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan
prinsip kesejahteraan manusia.
15.
Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung
jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab
terhadap orang lain.
F. Faktor – Faktor Yang Menghambat Komunikasi
Menurut Purwanto, (1994) adapun faktor yang menghambat komunikasi adalah
:
a.
Faktor yang bersifat teknis yaitu kurangnya penguasaan
teknik komunikasi.
Teknik komunikasi mencakup unsur – unsur yang ada dalam komunikator,
dalam mengungkapkan pesan, kejelian dalam memilih saluran dan metode
penyampaian pesan.
b.
Faktor yang sifatnya prilaku (prilaku komunikan )
-
Prasangka yang didasarkan atas emosi.
-
Suasana yang otoriter.
-
Ketidak mauan untuk berubah walaupun salah.
-
Sifat yang egosentris.
c.
Faktor yang bersifat Situasional
Kondisi dan situasi yang menghambat komunikasi
misalnya : situasi ekonomi, sosial, dan keamanan.
G. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan segenap apa yang kita ketahui
tentang objek tertentu, merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung
atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan, ilmu merupakan bagian dari
pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping pengetahuan lain seperti seni
dan agama (Suria Sumantri, 1998).
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengalaman manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Soekidjo Notoadmojo,
1997).
Lebih lanjut Soekidjo Notoatmodjo (1995),
mengatakan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang akan menimbulkan respon
batin dalam bentuk sikap terhadap objek yang diketahui sehingga menimbulkan
respon berupa tindakan untuk memberikan informasi. Gillies (1996) yang
mengatakan seseorang yang berpendidikan tinggi, mempunyai kemampuan yang tinggi. Semakin tinggi pendidikan
seseorang semakin kritis, logis, dan sistematis cara berpikirnya.
Pendidikan kesehatan dapat diberikan secara individu,
kelompok dan massa (publik) dalam
bentuk bimbingan, ceramah, seminar, diskusi kelompok atau dengan pemasangan billboard, poster-poster, leaflet dan berbagai
bentuk iklan/informasi (Soekidjo Notoatmodjo, 1997)
1.
Tingkat
Pengetahuan
Soekidjo Notoadmojo (1993) membedakan tingkat
pengetahuan didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
a.
Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya,
termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall),
terhadap suatu yang spesifik dari seluruh badan dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah kata
kerja untuk mengukurnya antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi,
menyatakan dan sebagainya.
b.
Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan matri tersebut
secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya.
c.
Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d.
Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (synthesys)
Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam
suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f.
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaiatan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian ini didasarkan
suatu kriteria yang telah ada.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut
Soekidjo Notoadmojo (1993), pengetahuan dalam masyarakat dipengaruhi beberapa
faktor antara lain : sosial ekonomi, kultur (budaya, agama), pendidikan, dan
pengalaman.
a.
Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung
tingginya pengetahuan seseorang, sedang ekonomi, ekonomi baik tingkat
pendidikan tinggi, tingkat pengetahuan akan tinggi juga.
b.
Kultur, budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat
pengetahuan seseorang, karena informasi-informasi yang baru akan disaring
kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut.
c.
Pendidikan, yaitu semakin tinggi pendidikan maka ia
akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal yang baru
tersebut.
d.
Pengalaman, pengalaman disini berkaitan dengan umur dan
pendidikan individu, maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih
luas, sedang umur semakin tua umur seseorang pengalaman akan semakin banyak.
H. Sikap
Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi
perasaan sikap seseorang terhadap suatu objek berupa perasaan mendukung atau
memihak (favorable) maupun tidak mendukung atau tidak memihak pada objek
tertentu (unfavorable), (Berkowitz, 1972
dalam Azwar, 1995).
Sikap
merupakan suatu reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu
timulus atau objek (Soekidjo Notoadmojo, 1997). Lebih lanjut Saifuddin
Azwar (1995), mengatakan bahwa informasi yang diberikan akan memberikan
pengetahuan baru yang merupakan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap
dalam melakukan komunikasi.
Sikap secara nyata mempunyai konotasi adanya
kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari yang
bersifat emosional terhadap suatu stimulus dengan sikap positif, (Saifuddin
Azwar, 1995).
Sikap tidak
dapat dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang
tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan suatu konotasi adanya kesesuaian
reaksi terhadap stimulus tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi
yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Menurut Newcomb salah seorang
psikologi sosial menyatakan sikap itu merupakan kesiapan atau kesedian untuk
bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan
suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tidakan atau
perilaku.
1.
Komponen Sikap
Menurut Allfort (1954), yang dikutip dalam Soekidjo
Notoadmojo (1997) menjelaskan sikap mempunyai 3 komponen yaitu :
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep
terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional
terhadap suatu objek
3. Kecendrungan utnuk bertindak (Trend to
behave)
Ketiga
komponen ini bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude)
diman pengetahuan, berpikir, kenyakinan dan emosional memegang peranan penting.
2.
Tingkatan sikap
Suatu sikap
belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overbehavior) pendukung
atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas (Soekidjo
Notoadmojo, 1997) adalah :
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang
(subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan
2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila
ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu
indikasi dari sikap. Karena suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau
mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah
arti orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (valuaing)
Mengajak orang lain untuk
mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah
suatu indikasi sikap tingakt tiga.
4. Bertanggung Jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala
sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang
paling tinggi.
|
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (1993) Kerangka Konsep
adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep yang satu terhadap konsep yang
lain dari masalah yang diteliti, sedangkan konsep adalah suatu abstraksi yang
dibentuk dengan menggeneralisasi suatu pengertian.
Secara skematis kerangka konsep dapat dilihat sebagai berikut
:
Input Proses Output
![]() |
![]() |
![]() |
|||
|
: Yang diteliti
B. Definisi Operasional
1.
Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi therapeutik
:
a.
Komunikator
(Perawat)
|
Pengetahuan Adalah : Merupakan segenap apa yang
diketahui oleh perawat dalam melakukan komunikasi, merupakan khazanah kekayaan
mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan
Alat ukur :
Kuesioner masing-masing 10 pertanyaan
Skala Ukur : Ordinal
Hasil ukur : Baik
apabila jawaban Ya 8-10 pertanyaan
Cukup
apabila jawaban Ya 6-7 pertanyaan
Kurang
apabila jawaban Ya 0 - 5 pertanyaan
Sikap adalah Suatu bentuk sikap perawat terhadap
keluarga Pasien dalam melakukan komunikasi berupa perasaan mendukung (favorable)
maupun tidak mendukung (unfavorable),
Cara Ukur : Dengan mengisi kuesioner berjumlah 10 pertanyaan sikap
dengan penilaian sebagai berikut:
a.
Ya : nilainya 1
b.
Tidak : nilainya 0
Alat ukur :
Kuesioner masing-masing 10 pertanyaan
Skala Ukur : Skala Ordinal
Hasil ukur : 1.
favorable : Bila total skor > 6
2. unfavorable : Bila total skor < 5
b.
Komunikan ( Keluarga Pasien)
Pengetahuan Adalah : Merupakan segenap apa yang diketahui oleh
keluarga pasien tentang komunikasi.
Alat ukur :
Kuesioner masing-masing 10 pertanyaan
Skala Ukur : Ordinal
Hasil ukur : Baik
apabila jawaban Ya 8-10 pertanyaan
Cukup
apabila jawaban Ya 6-7 pertanyaan
Kurang
apabila jawaban Ya 0 - 5 pertanyaan
Sikap adalah Suatu bentuk sikap keluarga pasien
terhadap perawat dalam melakukan komunikasi berupa perasaan mendukung (favorable)
maupun tidak mendukung (unfavorable),
Cara Ukur : Dengan mengisi kuesioner berjumlah 10 pertanyaan sikap
dengan penilaian sebagai berikut:
a.
Ya :
nilainya 1
b.
Tidak : nilainya 0
Alat ukur :
Kuesioner masing-masing 10 pertanyaan
Skala Ukur : Skala Ordinal
Hasil ukur : 1.
favorable : Bila total skor > 6
2. unfavorable : Bila total Skor <
5
C. Jenis dan Rancangan Penelitian
Rancangan
penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang menggambarkan atau
mendeskriptifkan tentang suatu keadaan atau fakta yang dijumpai pada saat
penelitian dilakukan terhadap objek penelitian.
D. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasinya
adalah seluruh perawat yang bertugas di ruang rawat Inap Melati ( C2 ) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu dan keluarga pasien.
2.
Sampel
Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah
seluruh perawat yang bertugas di ruang rawat Inap Melati ( C2 ) RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu (total
sampel) yang berjumlah 25 orang perawat yang melakukan Komunikasi
Kepada keluarga pasien dan begitu juga keluarga pasien dengan perawat.
E. Teknik Pengumpulan Data
1.
Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data yang
dilakukan oleh penulis adalah dengan menyebarkan kuesioner atau angket kepada
responden ( Perawat dan Keluarga pasien )
2.
Instrumen Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan
adalah daftar kuesioner
F. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilakukan dari tanggal 1-6
Agustus 2005 tempat penelitian adalah Ruang rawat Inap Melati ( C2 ) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu.
G. Tekhnik Pengolahan dan Analisa Data
1.
Tekhnik Pengolahan Data
Data yang
diperoleh dari kuesioner yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah kembali.
Adapun langkah-langkah yang penulis gunakan dalam pengolahan data tersebut
adalah sebagai berikut :
a.
Editing yaitu untuk melihat apakah isi jawaban /
data yang akan diolah tersebut sudah relevan dengan tujuan penelitian.
b.
Coding yaitu memberikan kode pada setiap jawaban
responden
Jawaban Ya : 1
Jawaban Tidak : 0
c.
Tabulating yaitu
melakukan tabulasi data yang diperoleh dengan menggunakan rumus distribusi
frekuensi ( Arikunto,1998 ) yaitu
F
N
Keterangan :
P : Jumlah Persentase yang dicari
F : Frekuensi Jawaban dari responden yang benar
N : Jumlah Responden
Untuk mengetahui gambaran penerapan komunikasi
therapeutik oleh perawat di ruang rawat Inap Melati ( C2 ) RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu digunakan skala perhitungan Tingkat Pengetahuan menurut Arikunto (
1998 ) yaitu :
76% – 100% =
Baik
56% - 75% =
Cukup Baik
£ 55% = Kurang Baik
Dari hasil tabulasi terhadap distribusi jawaban
tersebut dihitung skor total untuk individu kemudian dicari nilai median dan
skor total individu yang mungkin terjadi ( Al, Rasyid, 1994)
Md = Skor Minimal + Skor Maksimal
2
= 0
+ 10
2
= 5
2.
Tekhnik Analisa Data
Setelah dianalisa data yang akan disajikan dalam
bentuk tabel frekuensi dan narasi kemudian diinterfrestasikan
|
BAB IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Jalannya Penelitian
1.
Persiapan
Di dalam membuat Karya Tulis Ilmiah ini pertama dimulai dengan mengajukan
judul pada bulan april 2005, konsultasi dengan pembimbing, studi pustaka untuk
menentukan acuan penelitian dan menyiapkan instrument penelitian. Kemudian
mengurus Izin penelitian dari institusi pendidikan, Badan Persatuan Bangsa dan
Perlindungan Masyarakat dan tempat penelitian yaitu Badan Pelayanan Kesehatan
Masyarakat RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada
responden yang berjumlah 25 orang perawat
dan 25 orang keluarga pasien. Setelah kuesioner terjawab ditarik kembali dan
peneliti melakukan pengolahan data kemudian disajikan dalam bentuk tabel
distribusi .
|
Hambatan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah kesulitan
menerima responden (perawat) dan keluarga pasien di ruangan rawat Inap Melati
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, karena dibagi dalam tiga sif tugas yaitu pagi, sore
dan malam sehingga penyebaran kuesioner tidak bisa dilakukan secara bersamaan,
namun peneliti harus menuggu penggantian sif.
B. Hasil Penelitian
a.
Pengetahuan Komunikator (Perawat) dalam
Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu
Dari hasil pengelolaan data berupa kuesioner yang
terdiri dari masing-masing 10 pertanyaan, maka hasil penelitian terhadap
masing-masing 25 responden, yaitu perawat dan keluarga pasien diruang Melati
(C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu akan disajikan dalam bentuk tabel, kemudian
diinterprestasikan dan dibuat kesimpulan.
Dari hasil penelitian didapat Pengetahuan Perawat
dalam melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien pada tabel 4.1 di
bawah ini :
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi
Pengetahuan Komunikator (Perawat ) dalam
Komunikasi Therapeutik kepada keluarga pasien di ruang Melati (C2)
RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu
|
No
|
Pengetahuan
Perawat
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Baik
|
13
|
52
|
|
2
|
Cukup
|
10
|
40
|
|
3
|
Kurang
|
2
|
8
|
|
Total
|
25
|
100,0
|
|
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa 13
orang perawat atau 52% yang tingkat pegetahuannya baik dalam melakukan
komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien, 10 orang perawat atau 40% yang
melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien sedang, dan 2 orang atau 8,0% yang melakukan komunikasi
therapeutik kepada keluarga pasien kurang, dari seluruh perawat yang ada di
ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
b.
Sikap
Komunikator ( Perawat ) dalam Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Dari hasil penelitian didapat mengenai sikap perawat
kepada pasien dalam melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien
pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2
Distribusi
frekuensi Sikap Komunikator (Perawat) dalam Komunikasi Therapeutik
Kepada
Keluarga Pasien di ruang Melati (C2)
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
|
No
|
Sikap Perawat
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
favorable
|
14
|
56
|
|
2
|
unfavorable
|
11
|
44
|
|
Total
|
25
|
100,0
|
|
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa 14
orang perawat atau 56% yang sikapnya baik dalam melakukan komunikasi
therapeutik kepada keluarga pasien, 11 orang perawat atau 44% yang melakukan
komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien kurang, dari seluruh perawat yang ada di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
c.
Pengetahuan Komunikan ( Keluarga Pasien ) dalam
Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu
Dari hasil penelitian didapat mengenai Pengetahuan
Keluarga pasien kepada Perawat dalam melakukan komunikasi pada tabel di bawah
ini :
Tabel 4.3
Distribusi
frekuensi Pengetahuan Komunikan (Keluarga pasien)
di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
|
No
|
Pengetahuan
Keluarga Pasien
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Baik
|
7
|
28
|
|
2
|
Cukup
|
15
|
60
|
|
3
|
Kurang
|
3
|
12
|
|
Total
|
25
|
100,0
|
|
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas maka dapat diketahui
bahwa 7 orang Keluarga Pasien atau 28% yang tingkat pegetahuannya baik dalam
melakukan komunikasi kepada perawat, 15 orang keluarga pasien atau 60% yang
melakukan komunikasi kepada perawat sedang,
dan 3 orang atau 12% yang
melakukan komunikasi kepada perawat kurang, dari seluruh total keluarga yang ada
di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu saat dilakukan penelitian.
d. Sikap
Komunikan ( Keluarga Pasien ) dalam Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Dari hasil penelitian didapat mengenai sikap keluarga
pasien kepada perawat dalam melakukan komunikasi pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.4
Distribusi frekuensi
Sikap Komunikan (Keluarga Pasien) dalam Komunikasi
Kepada Perawat di
ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu
|
No
|
Sikap Keluarga Pasien
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
favorable
|
12
|
48
|
|
2
|
unfavorable
|
13
|
52
|
|
Total
|
25
|
100,0
|
|
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas dapat diketahui, bahwa
12 orang keluarga pasien atau 48% yang sikapnya baik dalam melakukan komunikasi
kepada perawat, 13 orang keluarga pasien atau 52% yang melakukan komunikasi
kepada perawat kurang, dari seluruh keluarga saat penelitian yang ada di ruang
Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
C.
Pembahasan
a.
Pengetahuan Komunikator (Perawat) dalam
Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu.
Dari hasil penelitian pada Tabel 4.1 yaitu sebagian
besar perawat memiliki pengetahuan yang baik yaitu 13 orang perawat atau 52%,
10 orang perawat atau 40% sedang,
dan 2 orang atau 8,0% yang
melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien kurang, dari seluruh
perawat yang ada di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Dari hasil yang diperoleh tersebut tampak, bahwa pengetahuan perawat
yang memiliki pengetahuan baik dalam melaksanakan komunikasi therapeutik kepada
pasien, hal ini masih ada pengetahuan perawat yang kurang dalam penguasaan
masalah yang dihadapi pasien dan keluarga pasien. Perawat hendaknya memberikan pelayanan
keperawatan kepada pasien, namun juga memberikan pelayanan yang bersifat
batiniah dengan lebih banyak melakukan komunikasi dengan pasien dan keluarga
pasien, dengan tujuan untuk memberikan penjelasan dan informasi yang diperlukan
oleh pasien dan keluarga pasien guna kesembuhan bagi pasien, karena komunikasi
therapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan
kegiatanya dipusatkan untuk kesembuhan pasien ( Purwanto, 1994).
Dalam komunikasi therapeutik, seorang perawat dituntut
untuk memiliki wawancara (pengetahuan) yang luas mengenai informasi yang akan
disampaikan kepada pasien dan keluarga pasien,
karena pengetahuan merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang objek
tertentu, merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak
langsung turut memperkaya kehidupan ( Suria Sumantri, 1998 )
Dengan pengetahuan yang kurang dapat mempengaruhi
keberhasilan dari komunikasi yang
dilakukan, hal ini sejalan dengan pernyataan Kariyoso (1994) bahwa pengetahuan
perawat sebagai (komunikator) yaitu keberhasilan dari komunikasi dipengaruhi
kekayaan (wawasan) pengetahuan pihak komunikator, semakin dalam komunikator
mengusai masalah semakin baik dalam meberikan uraian-uraian.
Dengan demikian, sangat diharapkan perawat menambah
wawasan dalam melaksanakan komunikasi therapeutik kepada pasien atau keluarga
pasien melalui lebih banyak membaca, mempelajari secara mendalam diagnosa
penyakit dan keperawatan terhadap pasien, secara aktif bertanya kepada rekan sekerja yang lebih
senior dan berpengalaman. Serta dengan melakukan observasi yang kontinyu kepada
pasien, hal ini sesuai dengan pernyataan Soekidjo Notoadmodjo (1997). Karena
pengetahuan merupakan hasil “tahu” terjadi setelah melakukan pengindraan
terhadap suatu objek tertentu, pengindraan terjadi melalui indra manusia, yakni
indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
b.
Sikap Komunikator ( Perawat ) dalam Komunikasi
di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Dari hasil penelitian Berdasarkan Tabel 4.2 di atas
dapat diketahui bahwa 14 orang perawat atau 56% yang sikapnya baik dalam
melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien, 11 orang perawat atau
44% yang melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien kurang yang
melakukan komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien kurang dari seluruh
perawat yang ada di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Hasil tersebut diperoleh dari kuesioner yang dilakukan
wawancara kepada perawat sebagai responden. masih terdapat sikap yang kurang
dalam komunikasi therapeutik kepada keluarga pasien tersebut, disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan perawat, sikap perawat yang kurang menerima atas
informasi dari keluarga pasien, sikap marah atas informasi yang dilakukan
pasien dan keluarga pasien tentang penyakitnya.
Sikap perawat yang baik ini mendukung keberhasilan
dalam komunikasi therapeutik, sehingga dapat mempercepat penyembuhnan pasien.
Penelitian ini sejalan dengan pernyataan Berkowitz dalam Azwar (1995) bahwa
sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan sikap seseorang
terhadap suatu objek berapa perasaan mendukung atau memihak maupun tidak
mendukung atau tidak memihak pada objek tertentu. Hal ini juga sesuai dengan
pendapat Sokiddjo notoatmodjo(1997) yaitu sikap merupakan suatu reaksi atau
respon yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek.
Dengan demikian perawat diharapkan lebih menunjukkan
sikap yang lebih baik lagi dalam melakukan komunikasi kepada pasien atau keluarga
pasien, karena sikap yang baik juga dapat memberikan hasil yang baik dalam
berkomunikasi therapeutik, karena sikap tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat
ditafsirkan lebih dahulu dari perilaku tertutup. Sehingga perawat harus dapat
bersikap sopan, ramah, santun dalam berkomunikasi therapeutik kepada pasien dan
keluarga pasien.
c.
Pengetahuan Komunikan ( Keluarga Pasien ) dalam
Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu
Dari hasil penelitian berdasarkan Tabel 4.3 di atas
dapat diketahui bahwa 7 orang Keluarga Pasien atau 28% yang tingkat
pegetahuannya baik dalam melakukan komunikasi kepada perawat, 15 orang keluarga
pasien atau 60% yang melakukan komunikasi kepada perawat sedang dan 3
orang atau 12% yang melakukan komunikasi keluarga pasien kepada perawat kurang
dari seluruh total keluarga yang ada di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu saat dilakukan penelitian.
Dari data tersebut, pengetahuan keluarga pasien yang
sebagian besar pengetahuan keluarga pasien sedang, dalam komunikasi therapeutik
dapat disebabkan oleh masih kurangnya pengetahuan keluarga pasien tentang
penyakit yang diderita oleh pasien, rasa sungkan untuk selalu bertanya kepada
perawat, kurangnya rasa pengetahuan keluarga pasien tentang penyakit pasien.
Hal ini dapat juga disebabkan oleh rasa menerima dan pasrah terhadap keadaan
yang sedang dihadapi.
Pengetahuan keluarga pasien masih terdapat sebagian kurang adalah dapat memperlambat
penyembuhan pasien, karena pengetahuan yang dimiliki seseorang akan
diinterprstasikan terhadap sikap mereka, sehingga pengetahuan keluarga pasien
yang kurang akan menimbulkan sikap keluarga pasien yang kurang pula dalam
membantu proses penyembuhan pasien sehingga komunikasi therapeutik yang
dilakukan oleh perawat tidak dapat diterima secara tepat oleh keluarga pasien,
hal ini sejalan dengan pendapat Soekidjo Notoatmodjo (1995) mengatakan bahwa
pengetahuan yang dimiliki seseorang akan menimbulkan respon berupa tindakan
untuk memberikan informasi.
Dalam melaksanakan komunikasi therapeutic tidak hanya
perawat yang dituntut untuk memiliki pengetahuan yang baik tetapi begitu juga
bagi keluarga pasien sebagai pihak yang menerima informasi yang dilakukan, oleh
karena itu keluarga pasien juga dituntut untuk memiliki pengetahuan yang baik
agar informasi yang diberikan diterima secara tepat tanpa ada selisih dalam
menerima informasi. Untuk menambah pengetahuan keluarga pasien dapat diperoleh
melalui Koran, majalah maupun TV dan Penjelasan yang dilakukan oleh perawat,hal
ini sesuai dengan pernyataan Soekidjo Notoatmodjo ( 1997). Pendidikan kesehatan
dapat diberikan secara individu, kelompok dan massa ( publik), dalam bentuk bimbingan,
ceramah, seminar,diskusi kelompok atau dengan pemasangan billboard, poster-poster,
leaflet dan berbentuk iklan atau informasi.
d.
Sikap Komunikan ( Keluarga Pasien ) dalam
Komunikasi di ruang Melati (C2) RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu
Dari hasil berdasarkan Tabel 4.4 di atas dapat
diketahui bahwa 12 orang keluarga pasien atau 48% yang sikapnya baik dalam melakukan
komunikasi kepada perawat, 13 orang keluarga pasien atau 52% yang melakukan
komunikasi kepada perawat kurang melakukan komunikasi keluarga pasien kepada
perawat kurang dari seluruh keluarga saat penelitian yang ada di ruang Melati
(C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Sikap keluarga pasien sebagian besar mempunyai sikap
yang kurang dalam komunikasi therapeutik, tersebut merupakan interfrestasi dari
pengetahuan keluarga pasien yang sebagian besar adalah kurang, hal ini tidak
sejalan dengan pendapat Soekidjo
Notoatmodjo (1995) bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang akan menimbulkan
respon batin dalam bentuk sikap objek yang diketahui sehingga menimbulkan
respon berupa tindakan untuk memberikan informasi.
Sikap keluarga pasien yang sebagian besar adalah kurang
sangat berpengaruh terhadap penyembuhan pasien, karena sikap keluarga pasien
yang kurang dapat menerima informasi secara lambat, dan keluarga pasien tidak
dapat meberikan informasi kepada perawat tentang keadaan dan keluhan pasien,
karena sikap yang kurang tersebut sangat berpengaruh dalam keberhasilan
melaksanakan berkomunikasi. Dengan demikian baik perawat maupun keluarga pasien
hendaknya menpunyai sikap yang dapat bekerja sama dalam membantu penyembuhan
pasien melalui komunikasi therapeutik yang mereka lakukan.
|
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan dari tanggal 1 – 6 agustus 2005 dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa 13
orang perawat atau 52% yang tingkat pegetahuannya baik, 10 orang perawat atau
40% yang pengetahuan sedang dan 2 orang atau 8,0% yang pengetahuan kurang
dari seluruh perawat yang ada di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
dalam melakukan komunikasi therapeutik mengenai asuhan keperawatan.
2.
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa 14
orang perawat atau 56% yang sikapnya baik, 11 orang perawat atau 36% yang
sikapnya kurang dari seluruh perawat yang ada di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu dalam melakukan komunikasi therapeutik mengenai asuhan
keperawatan.
3.
|
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa 7 orang
Keluarga Pasien atau 28% yang tingkat pegetahuannya baik, 15 orang keluarga
pasien atau 60% yang pengetahuan sedang
dan 3 orang atau 12% yang
pengetahuan kurang dari seluruh total keluarga yang diambil di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu dalam melakukan komunikasi.
4.
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa 12
orang keluarga pasien atau 48% yang sikapnya baik, 13 orang keluarga pasien
atau 36% yang sikapnya kurang dari total
seluruh keluarga yang diambil saat penelitian di ruang Melati (C2) RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu.
B.
Saran
1.
Diharapkan bagi
perawat untuk meningkatkan pengetahuan di dalam berkomunikasi therapeutik
khususnya memberikan asuhan keperawatan demi meningkatkan mutu pelayanan
khususnya untuk ruang rawat inap Melati ( C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2.
Diharapkan kepada perawat untuk meningkatkan sikap
dalam melakukan pelayanan kepada pasien terutama dalam melakukan komunikasi
therapeutik dan juga berdampak meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
3.
Diharapakan kepada keluarga pasien untuk menjelaskan
kepada perawat dengan jelas mengenai
keluhan yang diderita oleh pasien demi penyembuhan penyakit.
4.
Diharapkan kepada keluarga pasien untuk berlaku sopan
dalam memberi tahu tentang keluhan penyakit pasien kepada perawat agar tidak
terjadi kesalah pahaman antar perawat dan keluarga pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Ari Kunto, 1998. Prosedur Penelitian Suatu PendekatanPraktek, Edisi
Ravisi III, Rineka Cipta, Jakarta.
Burgess, 1989. Komunikasi Therapeutik Dalam Perawatan, EGC, Jakarta.
DepKes RI, 1996, Komunikasi Therapeutik dalam Asuahan Keperawatan, Jakarta
Gillies, 1996, Manajemen Sumber Daya Manusia, terjemahan Dika
Sukmana.
Hafied Cangara,1996 Ilmu Komunikasi dalam Lintasan Sejarah dan
Filsafa. Surabaya
Karl Ronger, 1997, Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan.
Kariyoso, 1996, PengantarKomunikasi Bagi Siswa Perawat, EGC,
Jakarta.
Keliat, BA, 1996, Hubungan Therapeutik Perawat – Klien, Edisi
II, EGC,Jakarta.
Notoatmodjo, S, 1993, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka
Cipta, Jakarta.
______________.1993. Pengantar Pendidikan
Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Andi Offset : Yogyakarta
___________ 1995. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Andi Offset : Yogyakarta
,_____________1997.
Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Rhineka Cipta : Jakarta
Purwanto, H. 1994, Komunikasi Untuk Perawat, edisi I, EGC, Jakarta.
Saifuddin
Azwar. 1995. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, edisi II.
Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Stuart and Sudeen, 1996. Komunikasi Therapeutik Dalam Konteks
Keperawatan.
Sumantri, S. 1998. Metodelogi Penelitian Kesehatan Jakarta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar